Breaking News
Tingkatkan Sinergitas Lintas Sektoral, Kanwil Ditjenim kepri Pimpin Rapat TIMPORA dan Operasi Gabungan se-Provinsi Kepri | PTBA Dampingi Petani Kopi Sawahlunto Panen dan Ciptakan Nilai Tambah | Polisi Tangkap Dua Pelaku Curat di Katibung, Satu Di Antaranya Masih Berstatus Pelajar | Pemdes Ruguk Distribusikan Bantuan Pangan Beras 20 Kg dan Minyak 4 Liter Kepada 1.381 Warga Penerima Manfaat  | Sekda Bengkalis Pimpin Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Karhutla Tahun 2026 | Rayen dan Cece Menangkan Bujang dan Gadis Muara Enim 2026 |

‎Buntut Lima Remaja Diamankan Pemuda Desa Wel-Wel, Berujung Lapor Polisi ‎ ‎
Kamis 24 April 2025, 16:46 WIB
Ilustrasi

Siagaonline.com, Simeulue – Kasus dugaan kekerasan yang dialami AS (15) dan ZM (16) oleh sekelompok pemuda di Desa Wel-wel berbuntut panjang. Setelah kedua orang tua AS dan ZM resmi melaporkan peristiwa tersebut ke kepolisian, kini orang tua dari tiga remaja perempuan juga menyatakan akan menempuh jalur hukum, Kamis (24/4/2025).

‎“Kami sudah berkoordinasi dengan keluarga AS dan ZM. Langkah selanjutnya, kami juga akan melapor ke kepolisian demi keadilan anak-anak kami,” ujar DW (50), orang tua salah satu dari tiga remaja perempuan, saat ditemui Siagaonline.com di desa Kampung Ai.

‎DW menuturkan, sebelumnya pihak keluarga telah menempuh jalur damai melalui mediasi yang diinisiasi pemerintah desa Wel-Wel. Bahkan, ia mengaku telah dikenai denda sebesar Rp700 ribu karena anaknya dianggap melanggar hukum adat setempat.

‎Namun, menurut DW, perjanjian damai itu menjadi tak berarti ketika kemudian beredar foto-foto di media sosial yang menyudutkan anaknya dan dua temannya. “Foto itu membuat anak saya mengalami tekanan psikologis yang berat. Apalagi setelah itu, ia menjadi korban perundungan di sekolah dan bahkan memilih pulang sebelum jam pelajaran usai,” ujarnya.

‎Senada dengan DW, FI (47), orang tua dari remaja perempuan NR (15), juga menyatakan keberatan atas perlakuan yang diterima anaknya. Menurut pengakuan NR, ia bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali ditampar oleh para pemuda yang menangkap mereka malam itu.

‎“Kalau hanya sekali, kami mungkin bisa anggap itu sebagai pelajaran. Tapi anak saya bilang dia ditampar berkali-kali. Ini yang membuat saya bersedih dan berkecil hati,” tegasnya dengan mata berkaca-kaca.

‎Sementara itu, MM (54), ayah dari WR (18), mengungkapkan bahwa anaknya juga mengalami tekanan psikologis pasca-kejadian itu. Ia menyebut WR bahkan sempat menerima ancaman agar mengakui bahwa mereka berlima memang berada di tempat kejadian.

‎“Anak saya mengatakan bahwa mereka tidak berada di lokasi saat penangkapan AS dan ZM. Tapi mereka dijemput dan dipaksa ikut, seolah-olah mereka juga ditangkap di tempat yang sama,” jelas MM. 

‎Pada kesempatan itu, Ia juga menyinggung ada hal yang dialami anaknya, namun belum dapat diungkapkan ke publik, yang menurutnya memperkuat alasan untuk memproses kasus ini secara hukum.

‎Pj Kepala Desa Wel-Wel, saat ditemui bersama aparat desa dan tokoh masyarakat, membenarkan adanya aksi penangkapan sekelompok pemuda terhadap kelima remaja tersebut. Ia mengatakan malam itu juga telah digelar musyawarah bersama para orang tua, tokoh masyarakat, serta kepala desa asal kelima remaja.

‎“Permasalahan malam itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Semua pihak menyepakati hasil musyawarah, termasuk pemberian sanksi kepada kelima remaja agar tidak mengulangi perbuatan serupa,” ujar Pj Kades Wel-Wel.

‎Saat ditanyai wartawan, apakah proses perdamaian itu turut dihadiri dan di saksikan Babinsa dan Babinkamtibmas? Pj kepala desa menjawab bahwa pihak dari sebelah ingin agar persoalan itu dapat diselesaikan dengan cepat meski tak dihadiri Babinsa dan Babinkamtibmas," jelas PJ Kepala Desa Wel-Wel.

‎Terkait dugaan pemukulan, ia menegaskan bahwa dalam musyawarah, para pemuda yang melakukan penangkapan menyebutkan hanya melakukan tamparan satu kali, bukan pemukulan berulang seperti informasi yang kini beredar luas.

‎“Saya memang datang agak terlambat malam itu karena jarak dari tempat tinggal saya cukup jauh,” tambahnya.

‎Seorang tokoh masyarakat yang juga mantan kepala desa Wel-Wel turut mengonfirmasi adanya tamparan terhadap para remaja tersebut. “Memang ada tamparan satu kali terhadap masing-masing. Itu dianggap sebagai bentuk pembelajaran,” katanya.

‎Namun dengan munculnya laporan baru dari pihak orang tua, kasus ini tampaknya belum benar-benar usai. Para orang tua bersikukuh akan melanjutkan proses hukum demi memastikan keadilan bagi anak-anak mereka. (HRD)


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa korupsi dan lain-lainnya/rilis atau ingin pasang Iklan dan berbagi foto? Silakan SMS/WatsApp ke: 0852-6599-9456 Via E-mail: [email protected] / [email protected]
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda)
Komentar Anda
Loading...

Copyright © 2023 Siagaonline.com - All Rights Reserved
Scroll to top