Hairuddin Nasution warga Padangsidimpuan, kehilangan Motor Honda Beat Street yang diparkirkan di depan warung dalam keadaan hidup, raib begitu saja.Suara Pinggiran di Padangsidimpuan: Silap Mata Motor Raib — POLRI Perlu Sederhanakan Administrasi dan Tingkatkan Kemampuan Menangkap Pelaku
Penulis: Ahmad Mubin Lubis
Wartawan SiagaOnline.com
SiagaOnline.com, Padangsidimpuan – Bengang-bengong, mata liar menatap kiri-kanan mencari motor matic yang baru dibeli, tiba-tiba saja motor itu hilang. Hanya dalam beberapa menit, Hairuddin Nasution (60), mantan PNS, bermaksud membayar uang belanja Gas Elpiji tanpa menyangka kejadian itu akan terjadi. Motor Honda Beat Street dengan Nomor Polisi BB 5836 FY, yang diparkirkan di depan warung dalam keadaan hidup, raib begitu saja.
Antara heran, cemas, dan kalut, Hairuddin, yang juga penjaga Gedung Adam Malik Kota Padangsidimpuan, terdiam seribu bahasa atas peristiwa yang dialaminya, Senin (9/6/2025) sekitar pukul 18.30 WIB di kawasan Jalan Sisingamangaraja, dekat simpang tiga lampu merah, Kecamatan Padangsidimpuan Utara.
Meski ditanya orang-orang sekitar apakah ada yang melihat atau mengenal pelaku, Hairuddin Nasution tidak mendapatkan informasi apa pun. Dengan perasaan sedih, ia terpaksa pulang membawa derita yang sulit diceritakan pada anak dan istrinya.
“Saya cuma sebentar di dalam warung. Pas keluar, motor saya sudah tidak ada. Hilang begitu saja,” ujar Hairuddin kepada awak media dengan nada pilu.
Padangsidimpuan adalah kota kecil di Sumatera Utara. Masyarakatnya masih memegang kearifan lokal seperti budaya "Dalihan Na Tolu" yang artinya saling menjaga ikatan kekeluargaan.
Masyarakat di sini juga sangat antusias menjalankan berbagai kegiatan keagamaan. Dengan populasi sekitar 240.067 jiwa, penduduknya memeluk berbagai agama seperti Islam, Kekristenan (Protestan dan Katolik), Buddha, dan lainnya. Oleh karena itu, sangat jarang terjadi pertikaian terkait keyakinan, menandakan kejahatan tidak begitu mudah dipamerkan begitu saja disebabkan talian persaudaraan. Pasti banyak mata melihat dan menjadi buah bibir yang berkembang liar bila suatu perbuatan tak elok dipertontokan.
Berbeda dengan kota-kota besar yang sudah biasa dengan pernak-pernik kasus kejahatan. Di Padangsidimpuan yang lahir dari pemekaran Kabupaten Tapanuli Selatan, kasus "Silap Mata Motor Raib" ini menandakan tingkat kriminalitas yang mulai mengkhawatirkan.
Begitulah yang dialami Hairuddin Nasution. Sejak hari naas itu, ia telah melaporkan kejadian tersebut ke Polres Padangsidimpuan. Pihak kepolisian sudah menerima laporan dan saat ini tengah melakukan penyelidikan.
Kasat Reskrim Polres Padangsidimpuan, AKP Hasiholan Naibaho, SH, MH, saat dikonfirmasi awak media membenarkan laporan tersebut.
“Masih dalam tahap lidik, Pak. Jika ada perkembangan, kami akan kirimkan SP2HP kepada pelapor,” ujarnya.
Untuk kelengkapan penyelidikan, Hairuddin sudah dua kali dimintai keterangan oleh penyidik. Saksi-saksi juga telah dihadirkan, bahkan pemeriksaan CCTV di lokasi kejadian sudah ditawarkan.
Hampir sebulan setelah kejadian, yang bisa dilakukan Hairuddin hanyalah meratapi raibnya motor yang dibeli dengan perjuangan dan keringat sendiri, sambil berharap pelaku segera ditangkap.
Suara Hairuddin bukanlah bentuk kekecewaan terhadap kepolisian, melainkan harapan agar POLRI sebagai institusi penjaga keamanan dan ketertiban dapat berperan lebih baik.
Masyarakat menginginkan POLRI lebih proaktif dalam bertindak dan menyederhanakan administrasi agar respon cepat dengan kecakapan dan kemampuan yang dimiliki dapat meminimalisir ruang kejahatan yang selalu mengintai.
Harapan masyarakat terhadap kepolisian sangat besar, sehingga menjadi tantangan untuk membangun kepercayaan. Tugas POLRI memang berat, harus tampil sempurna dalam pengabdian walaupun beban itu kadang di luar batas kemampuan.
Kepercayaan tidak datang begitu saja, tapi harus diperoleh lewat transparansi dan komunikasi yang baik. POLRI pun berusaha membuka ruang diskusi dengan masyarakat melalui berbagai cara, seperti forum diskusi, media sosial, dan layanan pengaduan yang mudah diakses.
Ini sudah cukup bagus dan menarik, terutama dengan program POLRI Call Center 110 yang hadir di tengah masyarakat. Siapa saja yang membutuhkan pelayanan POLRI bisa dengan mudah menghubungi nomor 110.
Namun, apakah masalah benar-benar teratasi? Faktanya, belum sepenuhnya. Petugas datang dan meminta keterangan memang benar saat warga membutuhkan. Tapi, penyelesaian masalah masih perlu dorongan keberanian dari masyarakat untuk mengungkap sesungguhnya.
Menyelaraskan suara rakyat dengan tugas POLRI bukan hal mudah. Tapi dengan kerja keras dan niat baik, POLRI terus berusaha diyakini akan menjadi lebih baik. Dari kisah Hairuddin Nasution, kemampuan jaringan arus bawah POLRI untuk mendapatkan informasi kejahatan sudah seyogianya bisa terus ditingkatkan.
Pasukan Tribrata ini harus lebih cepat dan tepat tiap munculnya kasus yang mengusik Kamtibmas terlebih kasusnya masih kategori kejahatan biasa terjadi dibanding kejahatan lainnya yang lebih rumit dan unik untuk diungkap.
Keamanan bukan hanya soal menindak pelanggaran, tapi juga membangun hubungan baik dan pelayanan tulus. Suara rakyat adalah panduan agar POLRI selalu berada di jalan yang benar.
Dengan menyatukan harapan masyarakat dan tugas pengabdian, POLRI akan menjadi institusi yang semakin dipercaya, dihormati, dan dicintai masyarakat. (*)
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda)
| Berita Terkini | Indeks |