Breaking News
Sky Game Batam Bersama Insan Pers Perkuat Kemitraan Silaturahmi Rutin Dan Ngopi Santai | Polres Pekalongan Kota Gelar Patroli Skala Besar Antisipasi Street Crime Dan Balap Liar Saat Akhir Pekan | Polsek Mandau Gagalkan Peredaran Sabu di Bathin Solapan, Dua Pelaku Diamankan | Heri Amalindo dan Sekda Muara Enim Pimpin Upacara Pemakaman Nang Ali Solihin | H. Cik Ujang Tinjau Jalan Longsor di Pemulutan Barat, Minta Perbaikan Segera Diusulkan | H Cik Ujang Dorong Potensi Persawahan di Desa Kamal Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat |

Polisi Myanmar Gunakan Meriam Air Bubarkan Massa Aksi Anti-Kudeta
Senin 08 Februari 2021, 13:37 WIB
Siagaonline.com - Polisi Myanmar menggunakan meriam air (water cannon) untuk membubarkan ribuan massa yang menggelar aksi anti-kudeta di ibu kota Naypyidaw pada Senin (8/2).
"Polisi menggunakan meriam air untuk membersihkan (jalan)," kata seorang warga Naypyidaw, Kyak Kyaw yang turut dalam demo kepada AFP.

Penggunaan meriam air kali ini merupakan yang pertama sejak aksi protes terjadi dalam tiga hari terakhir. Sejauh ini demo berlangsung damai, berbeda dengan aksi protes yang sebelumnya terjadi pada 1988 dan 2007.

Dalam video yang bereda di media sosial, beberapa pengunjuk rasa mengalami luka-luka terkena tembakan air.

Mengutip CNNIndonesia.com, polisi mulai berhenti menembakkan meriam air setelah pedemo mengajukan banding, kendati aksi protes tetap berlanjut.

Massa dari sejumlah elemen masyarakat termasuk pekerja swasta, buruh pabrik, pekerja medis, mahasiswa, biksu melakukan aksi mogok nasional menuntut pembebasan pemimpin de facto, Aung San Suu Kyi yang menjalani tahanan rumah. Massa juga menuntut militer mengakhiri kudeta dan mengembalikan demokrasi.

"Kami bergabung dalam protes untuk mengakhiri kediktatoran militer," ujar pedemo.

"Kami petugas kesehatan memimpin kampanye ini untuk mendesak semua staf pemerintah untuk bergabung dengan (gerakan pembangkangan sipil)", kata Aye Misan, seorang perawat di sebuah rumah sakit pemerintah pada sebuah protes di kota terbesar Yangon.

Unjuk rasa di akhir pekan kemarin merupakan demonstrasi terbesar yang digelar sejak Revolusi Saffron pada 2007, gerakan yang mendorong adanya reformasi dan pemerintahan demokratis di Myanmar.

Militer berdalih kudeta itu merupakan upaya menyelamatkan bangsa dari perpecahan karena ada kecurangan pemilihan umum. NLD kemudian menyiarkan pernyataan resmi atas nama Suu Kyi yang ditulis sebelum ia ditahan. Suu Kyi meminta warga Myanmar memprotes kudeta militer.

Pemerintah yang dikuasai junta militer pun mencopot 24 menteri serta deputi dan menunjuk 11 petinggi kementerian yang baru.

Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar Min Aung Hlaingyang menjadi penguasa tertinggi pascakudeta saat pertemuan pertama dengan kabinet baru mengatakan kudeta itu tidak terelakkan.

Pemerintah junta militer pun memutuskan memblokir media sosial Facebook beserta layanan kirim pesannya, Messenger, dan WhatsApp, karena aplikasi itu dianggap mengancam stabilitas negara. Akses internet yang sempat diblokir selama beberapa hari, akhirnya kembali aktif kemarin, Minggu (7/2).


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa korupsi dan lain-lainnya/rilis atau ingin pasang Iklan dan berbagi foto? Silakan SMS/WatsApp ke: 0852-6599-9456 Via E-mail: [email protected] / [email protected]
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda)
Komentar Anda
Loading...

Copyright © 2023 Siagaonline.com - All Rights Reserved
Scroll to top