PPKM berujung Ricuh Pemilik Caffe tolak Surat Edaran Bupati kecuali Ada solusi dari Pemerintah
Minggu 29 Agustus 2021, 18:58 WIB
Siagaonline.com, Kuansing - Penertiban pelanggar PPKM petugas gabungan di salah satu coffe di pusat Kota Teluk Kuantan berujung kericuhan antara owner coffe, pengunjung (mahasiswa) dan petugas gabungan, malam Minggu (29/08/2021).
Hal itu bermula, sabtu malam (28/8/2021), Petugas gabungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, Polri dan petugas kesehatan mendatangi salah satu caffe di pusat Kota Teluk Kuantan dan langsung ingin melakukan swab di tempat bagi pemilik dan pengunjung caffe tersebut.
Hal ini sontak mendapat penolakan dari owner caffe dan beberapa mahasiswa yg kebetulan sedang berkunjung di caffe tersebut.
Domestika yang kita kenal dengan Zona si pemilik Caffe saat di konfermasikan media Siagaonline mengatakan, belum mendapat surat edaran perpanjangan PPKM yang terbaru sehingga kembali menerima pengunjung seperti sebelum PPKM di terapkan. "Kami belum menerima surat edaran bupati tentang perpanjangan PPKM, makanya kami buka normal, apalagi malam ini kan malam minggu wajar saja banyak pengunjung yang datang," ujar Rizona di lokasi kejadian.
Adapun beberapa item yang di keluhkan oleh Owner The Zona Coffee antara lain :
-Tidak adanya diberikan surat edaran tentang ketentuan perpanjangan PPKM.
-Solusi tidak ada diberikan Pemerintah terhadap Pelaku Usaha yang beroperasi di malam hari membuat kebijakan tanpa solusi.
- Rasa ketidak keadilan dimana penertiban ini tidak merata dilakukan di seluruh tempat usaha, yang ramai dibiarkan sementara kami yang hanya beberapa meja ditertibkan seperti Caffe Onion pada jam yang sama terlihat pada jam yang sama dan para pengunjung melanggar prokes, ini terbukti dari beberapa postingan pengunjung di medsos.
- Petugas terlalu ramai dan menimbulkan berkerumun, sehingga tamu takut, risih dan tidak nyaman untuk berkunjung, bagaimana mau membungkus makanan untuk mendekati aja takut.
- Owner ingin Pemerintah memberi ganti rugi terhadap dagangan kami, apakah sanggup? Seperti kami yang tidak sanggup dengan kebijakan Pemerintah yg tidak pro rakyat.
- Dan rasa ketidakadilan kenapa pagi , siang kedai kopi dibiarkan penuh untuk orang sarapan dan makan siang, kenapa mereka tidak dirazia dan diswab di tempat.
Peraturan ini memang dari Presiden diteruskan ke Gubri lalu diteruskan kepada Bupati. Cuma saya kritik kalau mau buat aturan sesuaikan dengan keadaan masing-masing daerah. Update data apakah Kuansing masih zona merah? Kan tidak, jangan ikut-ikutan meniru kota besar kalau kondisi eksisting tidak sama masing-masing daerah.
"Kami menyayangkan dan mengutuk dengan keras sikap petugas yg melakukan Tindakan Rasis tersebut, hal ini jauh dari kata mengayomi,†tutupnya.
Nanang Salah satu karyawan kaffe Zona juga ikut berkomentar, "Semenjak ada PPKM kaffe jadi sepi dan jadi berdampak kepada pengunjung kaffe serta gaji kami juga berdampak. Seolah-olah bukan Covid yang membunuh kita, jadi mereka (petugas) yang membunuh ekonomi, Kalau bisa penertiban dilakuka sekali sebulan atau 2x dalam sebulan, seperti sinetron aja kok pakai episode-episode aja cetusnya.
Pada waktu yang sama tempat yang sama juga, Setelah beberapa lama berdebat dan beberapa pengunjung di lakukan swab dengan hasil negatif, seorang mahasiswa bernama Muhammad Abrar dengan nada besar meminta petugas membubarkan diri karna perdebatan petugas dengan owner cafe dan mahasiswa membuat banyak orang berkerumun di lokasi Caffe tersebut.
"Petugas Bubar, jangan bikin orang berkerumun disini," ujar Abrar. Kepada media. Abrar dan tenan-temannya juga membubarkan diri setelah menghabiskan kopinya.
Namun permintaan Abrar tersebut mendapat tanggapan bernada Rasis dari Oknum petugas gabungan yang berseragam TNI.
"Diam kau monyet," kata petugas yang tidak di ketahui namanya itu. Petugas ini langsung membuat marah para mahasiswa rekan Abrar, beruntung suasana cepat kondusif. (Neneng)
Hal itu bermula, sabtu malam (28/8/2021), Petugas gabungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, Polri dan petugas kesehatan mendatangi salah satu caffe di pusat Kota Teluk Kuantan dan langsung ingin melakukan swab di tempat bagi pemilik dan pengunjung caffe tersebut.
Hal ini sontak mendapat penolakan dari owner caffe dan beberapa mahasiswa yg kebetulan sedang berkunjung di caffe tersebut.
Domestika yang kita kenal dengan Zona si pemilik Caffe saat di konfermasikan media Siagaonline mengatakan, belum mendapat surat edaran perpanjangan PPKM yang terbaru sehingga kembali menerima pengunjung seperti sebelum PPKM di terapkan. "Kami belum menerima surat edaran bupati tentang perpanjangan PPKM, makanya kami buka normal, apalagi malam ini kan malam minggu wajar saja banyak pengunjung yang datang," ujar Rizona di lokasi kejadian.
Adapun beberapa item yang di keluhkan oleh Owner The Zona Coffee antara lain :
-Tidak adanya diberikan surat edaran tentang ketentuan perpanjangan PPKM.
-Solusi tidak ada diberikan Pemerintah terhadap Pelaku Usaha yang beroperasi di malam hari membuat kebijakan tanpa solusi.
- Rasa ketidak keadilan dimana penertiban ini tidak merata dilakukan di seluruh tempat usaha, yang ramai dibiarkan sementara kami yang hanya beberapa meja ditertibkan seperti Caffe Onion pada jam yang sama terlihat pada jam yang sama dan para pengunjung melanggar prokes, ini terbukti dari beberapa postingan pengunjung di medsos.
- Petugas terlalu ramai dan menimbulkan berkerumun, sehingga tamu takut, risih dan tidak nyaman untuk berkunjung, bagaimana mau membungkus makanan untuk mendekati aja takut.
- Owner ingin Pemerintah memberi ganti rugi terhadap dagangan kami, apakah sanggup? Seperti kami yang tidak sanggup dengan kebijakan Pemerintah yg tidak pro rakyat.
- Dan rasa ketidakadilan kenapa pagi , siang kedai kopi dibiarkan penuh untuk orang sarapan dan makan siang, kenapa mereka tidak dirazia dan diswab di tempat.
Dan intinya Pemilik caffe merasa tidak menerima surat edaran terbaru tentang perpanjangan PPKM. Dan pada saat di desak kepada petugas barulah memberikan surat edaran yang seakan - akan di print atau fotokopi secara buru-buru.
Peraturan ini memang dari Presiden diteruskan ke Gubri lalu diteruskan kepada Bupati. Cuma saya kritik kalau mau buat aturan sesuaikan dengan keadaan masing-masing daerah. Update data apakah Kuansing masih zona merah? Kan tidak, jangan ikut-ikutan meniru kota besar kalau kondisi eksisting tidak sama masing-masing daerah.
"Kami menyayangkan dan mengutuk dengan keras sikap petugas yg melakukan Tindakan Rasis tersebut, hal ini jauh dari kata mengayomi,†tutupnya.
Nanang Salah satu karyawan kaffe Zona juga ikut berkomentar, "Semenjak ada PPKM kaffe jadi sepi dan jadi berdampak kepada pengunjung kaffe serta gaji kami juga berdampak. Seolah-olah bukan Covid yang membunuh kita, jadi mereka (petugas) yang membunuh ekonomi, Kalau bisa penertiban dilakuka sekali sebulan atau 2x dalam sebulan, seperti sinetron aja kok pakai episode-episode aja cetusnya.
Pada waktu yang sama tempat yang sama juga, Setelah beberapa lama berdebat dan beberapa pengunjung di lakukan swab dengan hasil negatif, seorang mahasiswa bernama Muhammad Abrar dengan nada besar meminta petugas membubarkan diri karna perdebatan petugas dengan owner cafe dan mahasiswa membuat banyak orang berkerumun di lokasi Caffe tersebut.
"Petugas Bubar, jangan bikin orang berkerumun disini," ujar Abrar. Kepada media. Abrar dan tenan-temannya juga membubarkan diri setelah menghabiskan kopinya.
Namun permintaan Abrar tersebut mendapat tanggapan bernada Rasis dari Oknum petugas gabungan yang berseragam TNI.
"Diam kau monyet," kata petugas yang tidak di ketahui namanya itu. Petugas ini langsung membuat marah para mahasiswa rekan Abrar, beruntung suasana cepat kondusif. (Neneng)
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda)
Komentar Anda
Selasa 28 Juli 2026, 07:10 WIB
.
Senin 27 Juli 2026, 20:55 WIB
.
Senin 27 Juli 2026, 20:40 WIB
.
Loading...
| Berita Terkini | Indeks |