Indek Ketahanan Pangan 2021, Bukittinggi Merahi Peringkat Ke 3 Secara Nasional
Senin 07 Maret 2022, 22:19 WIB
SiagaOnline.com, Bukittinggi – Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI merilis Indeks Ketahanan Pangan (IKP) se-Indonesia Tahun 2021.
Melalui Buku Indeks Ketahanan Pangan Tahun 2021, Kota Bukittinggi provinsi Sumatera Barat meraih peringkat ke-3 secara nasional pada IKP Kota se-Indonesia untuk tahun kemarin.
Dalam buku setebal 66 halaman yang dirilis tahun 2022 itu, Kota Bukittinggi menduduki peringkat terbaik ketiga dari 98 kota se-Indonesia dengan skor IKP 88,90.
“Ini sebagai bukti dan komitmen yang kuat dalam mewujudkan visi misi Bukittinggi Hebat di Sektor Pertanian melalui program kegiatan dibidang pertanian yang berdampak terhadap kesejahteraan petani di Bukittinggi khususnya dan masyarakat pada umumnya, salah satu indikatornya adalah capaian IKP peringkat 3 secara nasional,†ujar Walikota Bukittinggi, Erman Safar, Senin (7/3).
Wako Erman mengatakan ketahanan pangan merupakan suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi suatu daerah sampai dengan perseorangan.
Ketahanan pangan yang kuat, tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat.
“Dengan ketahanan yang sehingga diharapkan mampu mendukung tersedianya sumber daya manusia Bukittinggi yang sehat, aktif, produktif dan berdaya saing sesuai amanat Undang-Undang No. 18/2012 tentang Pangan,†sebut Wako Erman.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Ir Melwizardi MSi mengatakan untuk mengetahui tingkat ketahanan pangan suatu wilayah beserta faktor-faktor pendukungnya.
“Kementerian Pertanian telah mengembangkan suatu sistem penilaian dalam bentuk IKP yang mengacu pada definisi ketahanan pangan dan subsistem yang membentuk sistem ketahanan pangan,†ujarnya.
Ia mengatakan, terdapat sembilan indikator yang digunakan dalam penyusunan IKP.
“Sembilan indikator itu merupakan turunan dari tiga aspek ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan,†tutur Melwizardi
Ia menambahkan, pemilihan indikator yang digunakan dalam IKP didasarkan hasil review terhadap indeks ketahanan pangan global, tingkat sensitivitas dalam mengukur situasi ketahanan pangan dan gizi, keterwakilan tiga pilar ketahanan pangan dan ketersediaan data secara rutin untuk periode tertentu (tahunan) serta mencakup seluruh kabupaten/kota dan provinsi. (Nia)
Melalui Buku Indeks Ketahanan Pangan Tahun 2021, Kota Bukittinggi provinsi Sumatera Barat meraih peringkat ke-3 secara nasional pada IKP Kota se-Indonesia untuk tahun kemarin.
Dalam buku setebal 66 halaman yang dirilis tahun 2022 itu, Kota Bukittinggi menduduki peringkat terbaik ketiga dari 98 kota se-Indonesia dengan skor IKP 88,90.
“Ini sebagai bukti dan komitmen yang kuat dalam mewujudkan visi misi Bukittinggi Hebat di Sektor Pertanian melalui program kegiatan dibidang pertanian yang berdampak terhadap kesejahteraan petani di Bukittinggi khususnya dan masyarakat pada umumnya, salah satu indikatornya adalah capaian IKP peringkat 3 secara nasional,†ujar Walikota Bukittinggi, Erman Safar, Senin (7/3).
Wako Erman mengatakan ketahanan pangan merupakan suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi suatu daerah sampai dengan perseorangan.
Ketahanan pangan yang kuat, tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat.
“Dengan ketahanan yang sehingga diharapkan mampu mendukung tersedianya sumber daya manusia Bukittinggi yang sehat, aktif, produktif dan berdaya saing sesuai amanat Undang-Undang No. 18/2012 tentang Pangan,†sebut Wako Erman.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Ir Melwizardi MSi mengatakan untuk mengetahui tingkat ketahanan pangan suatu wilayah beserta faktor-faktor pendukungnya.
“Kementerian Pertanian telah mengembangkan suatu sistem penilaian dalam bentuk IKP yang mengacu pada definisi ketahanan pangan dan subsistem yang membentuk sistem ketahanan pangan,†ujarnya.
Ia mengatakan, terdapat sembilan indikator yang digunakan dalam penyusunan IKP.
“Sembilan indikator itu merupakan turunan dari tiga aspek ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan,†tutur Melwizardi
Ia menambahkan, pemilihan indikator yang digunakan dalam IKP didasarkan hasil review terhadap indeks ketahanan pangan global, tingkat sensitivitas dalam mengukur situasi ketahanan pangan dan gizi, keterwakilan tiga pilar ketahanan pangan dan ketersediaan data secara rutin untuk periode tertentu (tahunan) serta mencakup seluruh kabupaten/kota dan provinsi. (Nia)
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda)
Komentar Anda
Senin 27 Juli 2026, 12:01 WIB
.
Senin 27 Juli 2026, 12:00 WIB
.
Senin 27 Juli 2026, 11:59 WIB
.
Loading...
| Berita Terkini | Indeks |