SiagaOnline.com, Lamsel – Ki Dalang Teguh Surono N. Dimun ramaikan pada pagelaran wayang kulit semalam suntuk, rangkaian acara merti dusun atau bersih Desa Karang Sari sekaligus memperingati sasi suro 1957.
Kegiatan tersebut juga rangkaian memperingati Hari Jadi Desa atau HUT ke-91 Desa Karang Sari, yang sebelumnya telah digelar pengajian akbar pada malam Selasa (17/7) dan ritual ruwat bumi pada Selasa (18/7) pagi.
Kegiatan ini berlangsung di Lapangan Sepakbola Kasaboma Arena Desa Karang Sari Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan, mulai pukul 20.00 WIB. Dan pengiring pagelaran wayang kulit tersebut dari sanggar seni tradisional Tirta Kencana pimpinan Bapak Warkam dari desa setempat. Sementara Ki Dalang Teguh Surono N. Dimun dan karawitan & sinden berasal dari sanggar seni Swara Pringgodani Desa Sukoharjo 3 Barat Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu.
“Kehadiran kami di undang oleh panitia untuk menjadi Dalang pagelaran wayang kulit di rangkaian kegiatan ruwat bumi di Desa Karang Sari. Dan tema malam ini adalah Wahyu Kamulyan Jati (mendapat wangsit Kemuliaan sejati) dengan lakon Ki Lurah Semar Bodronoyo dalam pewayangan simbol orang kecil tetapi ia bisa dibilang jimat urip morcopodo," terangnya.
Ki Dalang Teguh Surono melanjutkan, Semar itu tidak pernah berbuat salah, selalu membela kebenaran. Dan keutamaannya, barang siapa yang diikuti Semar, maka hidupnya Insyaallah akan lurus.
"Intinya seorang pemimpin itu, jangan sekali-kali meninggalkan rakyat kecil. Jika itu dilanggar, maka akan dibinasakan oleh semesta akibat karmapala. Saat ini, rakyat kecil jadi objek untuk meraih tampuk kekuasaan. Setelah jadi lupa pada rakyat kecil. Apalagi kita sebentar lagi mau Pemilu," imbuhnya.
Masih dikatakan Ki Dalang Teguh Surono, dari lakon pewayangan tersebut, bisa diaplikasikan oleh seluruh pemimpin di negeri ini, mulai dari presiden sampai di tingkat bawah kepala desa dan ketua Rt dan kepala keluarga, wajib menjaga dan mensejahterakan rakyatnya. Insyaallah hidupnya selalu dipenuhi keberkahan. Karena tugas kita memberi hidup terhadap sesama, sebagaimana titah dari Sang Pemberi Hidup di alam semesta ini," pungkasnya.
Diperkirakan penonton, akan ramai. Namun hanya kalangan tertentu yang mengerti ilmu hakekat ataupun maarifat saja yang menonton. Dan sebagian masyarakat yang sudah berumahtangga yang hadir menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk tersebut. Sementara kalangan muda, banyak yang tak menyukai karena tak mengerti. (Alfian)
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda)
| Berita Terkini | Indeks |