SiagaOnline.com, Bintan - Bagaikan menelan pil pahit, begitu yang dirasakan oleh 13 orang petani warga Bintan Utara Kabupaten Bintan yang mengalami nasib kurang beruntung dan terancam menjadi pengangguran kelas berat akibat sejumlah Tanaman dan bangunan milik para petani tersebut yang berdiri diatas lahan hutan lindung kini rata sama tanah tadi sore, Sabtu (19/8/23).
Toni Sagala anak dari Rasmin Sagala menceritakan kepada awak media ini, ia terkejut mendengar tadi sore bangunan dan tanaman milik orang tuanya yang berada diatas tanah garapan hutan lindung telah digusur rata sama tanah.
"Saya baru dapat kabar tadi sore bahwa rumah bapak dan sejumlah tanaman telah digusur yang diduga oleh Tim terpadu TPU Bintan Utara. Saya tidak tahu bahwa sekitar pukul 11.00 wib malam mereka datang ke lahan garapan bertemu sama petani disana, lalu berikan uang sebesar Rp 5 juta," ujar Toni sambil berlinang air mata mendengar kabar tersebut.
Kita petani sudah bertahan cukup lama di lahan garapan tersebut. Berharap adanya niat baik dan solusi terhadap ke 13 petani dari pihak Bupati Bintan agar petani diberikan lahan baru untuk bercocok tanam, kemudian sejumlah tanaman kita dan bangunan jangan dihargai Rp 5 juta, lanjutnya.
"Sementara Bapak sedang sakit sama sekali tak berdaya dan sekarang kami kehilangan tempat tinggal dan jadi pengangguran, kemana hati dan perasaan pemerintah daerah," ungkapnya.
Ia berjanji akan bongkar siapa-siapa saja oknum yang telah menguasai hektaran lahan hutan lindung yang telah miliki surat atas hak yang berlokasi diatas bukit tempat awalnya TPU Bintan Utara diresmikan diera kepemimpinan mantan gubernur Kepri Isdianto dan akhirnya bergeser ke lokasi lahan garapan petani. (Zen)
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda)
| Berita Terkini | Indeks |