‎Annisa Suci Ramadhani dan Bantuan Pertanian Terbesar dalam Sejarah Dharmasraya ‎ ‎
Siagaonline.com, Dharmasraya - Di tengah barisan traktor dan alat mesin pertanian yang berjajar rapi, Annisa Suci Ramadhani berdiri tenang. Senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya saat menyapa para petani yang datang dari berbagai penjuru Dharmasraya. Meski usianya tergolong muda untuk seorang kepala daerah, kehadirannya di halaman Kantor Dinas Pertanian Dharmasraya pada Rabu pagi, 11 Juni 2025, terasa kuat dan penuh makna. Hari itu, Dharmasraya mencatat sejarah: menerima bantuan pertanian terbesar sepanjang masa, senilai lebih dari Rp29 miliar.
Bantuan yang disalurkan bersama Wakil Ketua Komisi IV DPR RI H. Alex Indra Lukman dan Kementerian Pertanian itu tidak hanya sebatas angka. Bagi Annisa, ini adalah bukti bahwa kerja keras dan kolaborasi yang terjalin dengan tulus antara pusat, daerah, dan masyarakat bisa melahirkan perubahan nyata. Bantuan itu mencakup alsintan, bibit, irigasi, ternak, hingga program ketahanan pangan berbasis rumah tangga. Total 87 kelompok tani mendapat alat mesin pertanian, 242 kelompok menerima bibit padi, dan hampir seribu ekor sapi disalurkan ke 37 kelompok ternak.
Namun bagi Annisa, yang paling penting bukanlah jumlahnya, melainkan harapan yang disematkan dalam setiap alat, bibit, dan hewan ternak itu. Ia memahami betul bahwa di balik sebatang benih, ada masa depan keluarga petani yang menggantungkan hidup. Ia tahu bahwa ketika air mengalir ke lahan yang dulu kering, bukan hanya tanaman yang tumbuh, tapi juga semangat dan martabat petani.
Kepemimpinannya yang dekat dengan rakyat bukan sekadar retorika. Warga mengenalnya sebagai pemimpin yang mau turun langsung ke sawah, mendengarkan keluhan, dan mencatat aspirasi dengan teliti. Ia memandang petani bukan sebagai objek pembangunan, tapi sebagai mitra sejati. “Pertanian adalah tulang punggung ekonomi Dharmasraya, dan petani harus berada di tengah panggung pembangunan,” katanya dengan tenang namun penuh tekad.
Banyak yang menyebutnya sebagai pemimpin dengan pandangan jauh ke depan. Ia tak hanya berbicara soal swasembada, tapi juga soal nilai tambah dan kemandirian desa. Melalui pendekatan One Village One Product (OVOP), ia mendorong setiap nagari untuk fokus pada keunggulan masing-masing - padi, jagung, hortikultura, ayam, sapi, hingga perikanan. Bagi Annisa, pertanian bukan hanya warisan, tapi juga masa depan yang harus dijaga dan ditumbuhkan dengan inovasi.
Di tengah suasana seremoni penyerahan bantuan, seorang petani tua menghampirinya. Mereka berbincang sebentar, tertawa kecil, lalu berjabat tangan. Tak ada batas antara pemimpin dan rakyatnya. Dalam genggaman itu, ada rasa percaya yang tak bisa diukur oleh anggaran atau laporan kinerja. Ada harapan bahwa masa depan pertanian Dharmasraya berada di tangan yang tepat.
Ketika mesin-mesin pertanian mulai menderu dan para petani membawa pulang bantuan ke ladangnya masing-masing, Annisa berdiri sejenak, mengamati. Ia tahu tugasnya belum selesai. Tapi ia juga tahu satu hal: bahwa hari itu, ia dan rakyatnya telah menanam sesuatu yang lebih besar dari benih - mereka menanam harapan.(Tegu)
Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa korupsi dan lain-lainnya/rilis atau ingin pasang Iklan dan berbagi foto?
Silakan SMS/WatsApp ke:
0852-6599-9456
Via E-mail:
[email protected] / [email protected]
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda) |
Komentar Anda :