Tapanuli Selatan, SiagaOnline.com - Polemik batas wilayah kembali mewarnai peta politik di Tapanuli Selatan (Tapsel). Sejak tahun 2022, Kabupaten Tapsel kehilangan 329 hektar lahan di Desa Batu Horing, Kecamatan Batangtoru, yang berpotensi mengandung emas, dan kini resmi menjadi bagian dari Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).
Keputusan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 136 Tahun 2022, yang disahkan tanpa perlawanan berarti dari pemerintahan Tapsel saat ini.
"Sungguh miris, tanah yang berpotensi besar mengandung emas ini berpindah ke kabupaten tetangga," ungkap Novedi Zega, anggota DPRD Tapsel dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Sabtu (26/10/2024).
Novedi menambahkan, mantan Bupati Tapsel, Syahrul M. Pasaribu, yang hadir dalam acara pelantikan Pengurus DPC Persatuan Peduli Masyarakat Nias (PPMN) Kecamatan Batangtoru, mengakui bahwa total lahan Tapsel yang hilang dan akan berpindah ke Tapteng, Tapanuli Utara (Taput), dan Mandailing Natal (Madina) mencapai 15.755 hektar.
"Kedaulatan wilayah perbatasan Tapsel 'diinvasi' kabupaten tetangga," tegas Novedi.
Syahrul M. Pasaribu membenarkan pernyataan tersebut. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar lahan yang hilang telah diakui negara melalui Permendagri Nomor 20 dan 136 Tahun 2022.
"Bahkan, Desa Somanggal Parmonangan di Kecamatan Sayurmatinggi telah hilang dari peta Tapsel dan berpindah ke Madina," ungkap Syahrul, yang menjabat sebagai Bupati Tapsel selama dua periode.
Ia juga menambahkan bahwa perbukitan di sisi kiri Danau Siais dan objek wisata air terjun Simatutung telah masuk wilayah Madina.
"Perpindahan di dua kawasan itu baru terlihat di peta yang diterbitkan Badan Informasi Geospasial (BIG), namun Permendagri tentang itu belum diterbitkan," jelasnya.
Syahrul memperingatkan, jika tidak ada upaya mempertahankan kedaulatan Tapsel, Permendagri terkait perpindahan wilayah tersebut akan segera terbit.
Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah, Kabupaten Tapanuli Selatan memiliki luas 435.535 hektar dengan batas yang jelas dengan Kabupaten Taput, Tapteng, Madina, Padanglawas Utara, dan Kota Padangsidimpuan.
Namun, luas wilayah Tapsel kini berkurang menjadi 419.780 hektar, menyusul hilangnya 15.755 hektar lahan.
"Minimnya kepedulian Pemkab Tapsel untuk mempertahankan wilayahnya menjadi penyebab utama hilangnya lahan ini," tegas Syahrul.
Gus Irawan Pasaribu, calon Bupati Tapsel, dan Jafar Syahbuddin Ritonga, calon Wakil Bupati, menyatakan keprihatinan mereka atas hilangnya kedaulatan wilayah Tapsel.
"Kita sangat miris mendengar kabar ini. Apalagi tanah 329 hektar yang hilang di Desa Batu Horing ini berpotensi besar mengandung emas," ujar Gus Irawan.
Jafar Syahbuddin Ritonga menambahkan, "Perlambatan pembangunan, SiLPA ratusan miliar rupiah, kedaulatan wilayah yang hilang, ini semua menjadi alasan kenapa kami harus hadir untuk membenahi Tapsel."
Paslon No.1 ini mengajak masyarakat Tapsel untuk bersatu dan kompak dalam mewujudkan Tapsel yang kembali bangkit.(Amils)
Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa korupsi dan lain-lainnya/rilis atau ingin pasang Iklan dan berbagi foto?
Silakan SMS/WatsApp ke:
0852-6599-9456
Via E-mail:
[email protected] / [email protected]
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda) |
Komentar Anda :