Keterangan Foto: Praktisi konservasi dan pertanian berkelanjutan Rasyid Assaf Dongoran menyerukan agar masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) meninggalkan mentalitas menunggu bantuan pemerintahPADANGSIDIMPUAN, SiagaOnline. com – Praktisi konservasi dan pertanian berkelanjutan Rasyid Assaf Dongoran menyerukan agar masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) meninggalkan mentalitas menunggu bantuan pemerintah. Ia menekankan bahwa kemajuan wilayah harus dibangun melalui kemandirian, kerja keras, dan kesadaran penuh untuk menjaga kelestarian alam sebagai sumber kehidupan.
Seruan ini disampaikan Rasyid setelah 25 tahun ia berkecimpung dalam upaya pelestarian lingkungan dan pengembangan pertanian di wilayah tersebut. Menurutnya, fondasi pertanian yang tangguh hanya akan lahir jika masyarakat mau turun langsung mengolah lahan yang tersedia, bukan sekadar berpangku tangan mengharapkan uluran tangan dari pihak lain.
“Pembangunan pertanian berbasis komoditas utama masa depan harus dibangun oleh keringat dan pengorbanan kita sendiri. Jangan menunggu, jangan menutup mata pada potensi diri, dan jangan hanya menuntut negara,” tegas Rasyid dalam tulisan yang diterima media, Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa prinsip ini sejalan dengan hukum alam, di mana hasil yang diperoleh bergantung pada usaha dan cara memperlakukan tanah. Jika masyarakat terus mengandalkan orang lain, waktu akan berlalu tanpa hasil yang berarti. Sebaliknya, ikhtiar yang dibarengi dengan perawatan alam akan menghasilkan keberlanjutan ekonomi dan ekologi.
Mengingat kekayaan ekosistem Tabagsel yang mencakup kawasan Batangtoru, Angkola, Siondop, hingga Barumun, Rasyid mengingatkan agar pembangunan pertanian tidak merusak sumber daya itu sendiri. Ia mendorong penerapan green agriculture atau pertanian ramah lingkungan, seperti penggunaan pupuk organik, pestisida nabati, sistem agroforestri, serta pengelolaan limbah yang bijak.
Rasyid juga menyoroti lima komoditas unggulan yang berpotensi menjadi tulang punggung ekonomi jika dikelola secara berkelanjutan. Kelima komoditas tersebut adalah Kopi Arabika dan Robusta dengan sistem naungan alami, Vanili organik sebagai “emas hijau”, Kakao dengan sistem agroforestri, Durian varietas unggul dengan pemupukan organik, serta Hortikultura dataran tinggi dengan pengendalian hama alami.
Melalui kombinasi etos kerja mandiri dan prinsip pelestarian alam, Rasyid optimis masyarakat Tabagsel mampu merawat warisan leluhur. Sektor pertanian, menurutnya, dapat menjadi pilar kemandirian dan kesejahteraan yang abadi bagi warga setempat jika dikelola dengan benar dan disiplin.(Mubin)
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda)
| Berita Terkini | Indeks |