Keterangan Foto: Ketua Dewan Pembina Tani Makmur Sumut Bobby Afif Nasution dan Ketua HKTI Sumut Gus Irawan Pasaribu mendengarkan keluhan petani di Tapsel.SiagaOnline.com, Tapanuli Selatan - Ribuan petani di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) menyampaikan keluh kesah mereka kepada Ketua Dewan Pembina Tani Makmur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution, dan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumut, Gus Irawan Pasaribu, dalam sebuah sarasehan di Alun-alun Sipirok, Sabtu (28/9/2024).
Para petani mengeluhkan kondisi jalan provinsi yang rusak parah, kesulitan mendapatkan bibit unggul, pupuk, dan pestisida, serta harga hasil pertanian yang rendah.
Ketua KTNA Tapsel, Juang Pakpahan, mengatakan sarasehan ini bertujuan untuk menyatukan persepsi tentang konsep pertanian ke depan di Tapsel dan Sumut. "Wujudkan kedaulatan pangan nasional dalam menyongsong Indonesia Emas 2045 sebagaimana program prioritas Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Prabowo dan Gibran," katanya.
Obama, perwakilan petani dari Kecamatan Saipar Dolok Hole, mengatakan bahwa di Tapsel, petani membudidayakan kopi, aren, kakao, padi, dan holtikultura. Namun, dalam tiga tahun terakhir, mereka menghadapi masalah ketersediaan bibit unggul, pupuk, pestisida, dan infrastruktur jalan yang rusak parah. "Jika terpilih, tolong perhatikan pupuk, bibit, dan pestisida. Mohon bangun Jalan Provinsi dan Jalan Kabupaten yang rusak itu pak. Susah kami keluarkan hasil pertanian. Biaya mahal dan harga murah karena jalan rusak," ujarnya.
Syahrul Pasaribu, mantan Bupati Tapsel dua periode dan anggota Pembina KTNA Sumut, membenarkan keluhan para petani dan menekankan pentingnya kolaborasi antara Pemkab Tapsel dan Pemprovsu untuk memperbaiki infrastruktur jalan. "Tahun 2022 dan 2023, pembangunan ruas jalan ini sudah dianggarkan Rp126 miliar oleh Pemprov Sumut. Namun, karena kurangnya sinergi dan kolaborasi, ruas jalan tersebut tidak ada yang dikerjakan," ungkapnya.
Gus Irawan Pasaribu, Ketua HKTI Sumut, mengakui telah mengidentifikasi masalah petani di Tapsel, termasuk kesulitan mendapatkan bibit unggul, pupuk, dan pestisida. Ia meyakini bahwa program kedaulatan pangan yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo dan Gibran akan membantu mengatasi persoalan ini. "Di saat yang tepat, pupuk bersubsidi akan langsung disalurkan ke petani. Kita mengerti persis persoalan ini dan akan melakukan restrukturiasai penyalurannya," kata Gus.
Bobby Afif Nasution, Ketua Dewan Pembina Tani Makmur Sumut, menjelaskan bahwa ia telah merancang perencanaan pembangunan yang fokus pada sektor pertanian dan infrastruktur. Ia juga berbagi pengalaman Pemko Medan dalam mengendalikan inflasi daerah melalui subsidi pembelian cabai merah dan bawang merah. "Jika harga bahan pokok di Medan naik, maka perekonomian di kabupaten dan kota se Sumut akan sangat terdampak. Bagaimana mengendalikan inflasi ini, kami subsidi pembelian cabai merah dan bawang merah dari Kabupaten Karo, Dairi dan Deli Serdang," katanya.
Bobby meyakini bahwa pembangunan Jalan Provinsi tidaklah rumit jika Gubernur memiliki komitmen dan niat tulus untuk memperbaikinya. Ia membandingkan Pemko Medan yang memiliki jalan sepanjang 3.200 kilometer dengan APBD Rp6 triliun per tahun, yang mampu memperbaiki dan memelihara jalan tersebut. "Dengan APBD Medan Rp6 triliun kita bangun dan pelihara jalan 3.200 kilometer. Konon lagi jalan 3.000 kilometer dengan APBD Sumut Rp14 triliun, Insya Allah tak sampai lima tahun, pembangunannya kita tuntaskan," kata Bobby.
Terakhir, Bobby berharap warga Tapsel dan Sumut memilih kepala daerah yang tidak menyengsarakan rakyat dan memiliki komitmen untuk membangun daerah.(Amils)
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda)
| Berita Terkini | Indeks |