Siagaonline.com, Dharmasraya – Siang itu, langit tampak mendung. Awan tipis menggantung, seolah menyimpan rindu yang akan segera pergi. Namun, di halaman SMAN 1 Sungai Rumbai, tak ada gurat muram. Hanya wajah-wajah penuh haru dan bangga. Di hari Senin yang biasa, tersimpan momen luar biasa. Tiga tahun kebersamaan para siswa kelas XII akhirnya berpuncak pada satu kata: perpisahan (14/04/2025).
Tak ada panggung megah, sorotan lampu, atau taburan bunga. Namun, setiap detik acara pelepasan hari itu terasa begitu berarti, megah dalam kesederhanaan. Di tengah suasana yang hangat, hadir para guru, orang tua, perwakilan kecamatan, dan komite sekolah. Mereka datang bukan sekadar sebagai tamu undangan, melainkan sebagai saksi perjalanan anak-anak yang kini berdiri di ambang akhir masa putih abu-abu.
"Ini bukan soal seremonial, tapi tentang menghormati proses," ucap Rini Susila, S.Pd., M.Pd., kepala sekolah yang dikenal tegas namun penuh kasih. Dengan suara tenang, ia menyampaikan bahwa acara ini lahir bukan dari kewajiban, melainkan dari kebersamaan. "Kami sadar, pelepasan ini tidak menentukan kelulusan. Namun, bersama siswa, guru, dan orang tua, kami ingin menciptakan momen penutup yang utuh—sebuah kesempatan untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, sebelum mereka melangkah ke depan," lanjutnya.
Momen paling sakral dalam acara itu adalah pengalungan medali. Satu per satu, siswa kelas XII maju ke depan untuk menerima medali dari tangan guru mereka. Bukan sekadar logam yang digantung di leher, medali itu menjadi simbol dari seluruh perjalanan kemenangan atas keraguan, kesabaran dalam menghadapi kegagalan, dan keberanian untuk terus mencoba.
Beberapa siswa menunduk, mata mereka berkaca-kaca. Di antara mereka, terlihat Andra Robi Saputra, mantan ketua OSIS yang dikenal dengan prestasi dan kerendahan hatinya. Saat ditanya apa arti medali itu baginya, ia menjawab pelan, "Medali ini kecil. Tapi mewakili semua malam yang saya habiskan untuk belajar, doa orang tua, dan semua guru yang tak pernah lelah mengingatkan," katanya.
Kemudian datang momen yang paling menyentuh: pelepasan balon harapan. Setiap balon tergantung secarik kertas yang berisi impian, cita-cita, dan harapan para siswa untuk masa depan mereka. Ketika balon-balon itu melayang ke langit, mereka seperti membawa pergi sebagian kenangan dan sekaligus mewakili masa depan yang ingin mereka raih.
Duduk di bangku paling belakang, Suginah, S.Pd., seorang guru yang sudah mengajar lebih dari satu dekade, menatap siswa-siswinya dengan mata yang tak bisa menyembunyikan keharuan.
“Setiap tahun, saya melihat anak-anak datang dan pergi. Tapi tahun ini terasa berbeda. Mungkin karena saya tahu betapa keras mereka berjuang selama pandemi, betapa sulitnya belajar dalam keterbatasan, dan betapa tabah mereka menghadapinya,” tuturnya.
Di sisi lain, para orang tua berdiri dengan ekspresi yang campur aduk: bangga, cemas, dan haru. Mereka tahu, anak-anak mereka tidak akan lagi mengenakan seragam itu, tidak lagi pulang dengan PR atau izin sakit. Yang akan datang adalah lembaran baru yang lebih luas dan jauh lebih menantang.
Tidak ada pesta besar. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah semua terasa lebih dekat dan jujur. Tak ada jarak antara guru dan siswa, kepala sekolah dan orang tua, masa lalu dan masa depan.
Siang itu, halaman sekolah kembali sepi. Namun, jejak-jejak kenangan tertinggal di setiap sudut. Di bangku-bangku kosong kelas XII, di papan tulis yang masih menyisakan bekas kapur, di lapangan tempat mereka berlari, tertawa, dan mungkin juga menangis.
Para siswa akan pergi, melangkah menuju masa depan yang belum mereka ketahui. Namun satu hal yang pasti, SMAN 1 Sungai Rumbai akan selalu menjadi bagian dari kisah mereka kisah tentang tumbuh, belajar, dan berani bermimpi.(Tegu Juangga)
Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa korupsi dan lain-lainnya/rilis atau ingin pasang Iklan dan berbagi foto?
Silakan SMS/WatsApp ke:
0852-6599-9456
Via E-mail:
[email protected] / [email protected]
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda) |
Komentar Anda :