Siagaonline.com, Kuansing - Matahari mulai meninggi saat riuh tepuk tangan dan teriakan penonton memecah suasana di sepanjang Batang Kuantan. Suasana latihan bersama jalur se-Kecamatan Kuantan Mudik benar-benar semarak. Di antara 19 jalur yang ikut berlaga, perhatian tertuju pada satu nama baru yang belum banyak dikenal: Pendekar Mudo dari Desa Seberang Pantai.
Siapa sangka, jalur yang baru diresmikan pada 25 Januari 2025 itu, berhasil finis di peringkat keenam,Pendekar Mudo hadir bukan sebagai unggulan, melainkan sebagai harapan baru. Dan ternyata, harapan itu bukan kosong.
Jalur ini bukan sekadar perahu panjang yang didayung puluhan orang. Ia adalah simbol kebersamaan dan cita-cita bersama warga Seberang Pantai. Dibangun dari nol, Pendekar Mudo hadir dari semangat gotong royong. Mulai dari pemuda desa, tokoh masyarakat, hingga perantau, semua menyumbangkan sesuatu. Tenaga, ide, dan yang paling penting: semangat.
Di balik kesuksesan ini, berdiri sosok-sosok penting yang tak bisa dilupakan. Tiga pelatih muda: Wery, Randi, dan Tanzil, adalah motor penggerak latihan yang tak kenal lelah. Latihan demi latihan dijalani dengan penuh kedisiplinan dan ketekunan. Mereka bukan hanya melatih teknik, tetapi juga membangun mental juara para anak-anak muda Seberang Pantai.
Tak kalah penting, dukungan dari Bundo Kanduang dan ibu-ibu di desa juga jadi bahan bakar semangat tersendiri. Mereka hadir di setiap latihan, menyemangati, mendoakan, dan menjadi penyokong moral utama bagi seluruh tim. Sementara pemerintah desa dan pengurus jalur ikut memastikan segala kebutuhan dan logistik terpenuhi. Semua bahu membahu. Semua bergerak demi satu nama: Pendekar Mudo.
Pj Kades Seberang Pantai, Nurman Antoni, M.Pd, mengaku bangga dengan pencapaian ini. “Kita patut bersyukur dan bangga. Pendekar Mudo adalah gambaran nyata dari semangat muda, kerja sama, dan tekad warga kita. Ini bukan soal peringkat semata, tapi tentang bagaimana kita membangun sesuatu dari bawah dan menjadikannya kebanggaan desa Seberang pantai,” ujarnya.
Bagi para atlet muda Pendekar Mudo, ini bukan sekadar latihan atau ajang pemanasan. Ini adalah panggung pembuktian bahwa mereka mampu. Salah satu atlet, Iyum, tak bisa menyembunyikan rasa harunya setelah pertandingan. “Awalnya kami hanya ingin tampil sebaik mungkin. Tapi ketika kami terus menang, kepercayaan diri tumbuh. Ini baru awal, kami belum puas. Kami ingin buktikan di pacu sebenarnya nanti,” katanya sambil tersenyum lelah.
Peringkat enam dalam latihan bersama ini memang bukan medali emas. Tapi bagi warga Seberang Pantai, ini adalah emas hati. Jalur yang baru seumur jagung bisa menembus sepuluh besar, bahkan berada di atas jalur-jalur kawakan. Sebuah prestasi yang tak hanya layak dirayakan, tapi juga dijadikan pijakan menuju pacu sesungguhnya di alek mendatang.
Pendekar Mudo memang masih muda, tapi ia telah membuktikan bahwa usia bukanlah batas untuk bermimpi dan mengukir sejarah. Hari ini peringkat enam, besok mungkin podium tertinggi. Sebab setiap pendekar sejati, lahir dari keberanian menantang arus sejak langkah pertama.(Tegu)
Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa korupsi dan lain-lainnya/rilis atau ingin pasang Iklan dan berbagi foto?
Silakan SMS/WatsApp ke:
0852-6599-9456
Via E-mail:
[email protected] / [email protected]
(Mohon Dilampirkan Data Diri Anda) |
Komentar Anda :